Baca Juga: Bekraf Pamer Talenta Kreatif di SXSW 2019
“Sub-sektor ini diprediksi akan terus berkembang dengan semakin maraknya startup-startup berbasis game yang terus bermunculan. Laju pertumbuhan PDB sub-sektor Aplikasi & Game Developer di tahun 2016 pun mencapai 8,06 persen dan valuasi pasar game indonesia di tahun 2017 berada di angka US$ 879,7 juta,” ungkap Cipto. Setelah melalui proses kurasi, sepuluh pelaku industri game yang mewakili Indonesia di GCA 2019 yakni Agate, Wisageni, GameLeveIOne, Masshive, Megaxus, Ciayo Games, Arsanesia, Gamechanger, SemiSoft, dan Everidea. Dikatakan Cipto, proses kurasi yang dijalani mengutamakan tiga hal, yaitu perusahaan atau tim pengembang aplikasi harus berasal dari Indonesia, menjadi anggota AGI, serta memiliki track record untuk membangun bisnis yang berkelanjutan. Sebab itu, utusan startup yang diboyong ke GCA 2019 dipastikan berkompeten dan sesuai kualifikasi.Baca Juga: Gandeng Bekraf, Grab Serius Dukung Ekonomi Kreatif Indonesia
Dengan mengikuti ajang bergengsi ini, para developer game akan memamerkan kualitas konten game tanah air yang tidak kalah bagus seperti buatan asing. Selain unjuk produk game, mereka juga berkesempatan mencari publisher dan pendanaan dari investor global. Untuk diketahui, keikutsertaan Indonesia di ajang GCA dimulai pertama kali pada tahun 2018 lalu. GCA yang telah berlangsung selama 13 tahun adalah salah satu pameran game terbesar di dunia yang menjadi acuan dalam arah pergerakan industri game.