Jakarta — Pabrik Nissan di Canton, Mississippi, yang merakit sedan Altima dan pikap Frontier, kini dilengkapi kamera berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memantau pergerakan pekerja. Teknologi ini diklaim menghemat jutaan dolar sekaligus menjaga kesehatan para karyawan pabrik.
Victor Taylor, divisional vice president of manufacturing Nissan untuk kawasan Amerika, menegaskan bahwa sistem ini bukan untuk menggantikan tenaga kerja manusia. "We're not talking about job elimination. What we're referring to are mundane tasks that are really antiquated for a human being to be performing," ujarnya kepada Business Insider.
Nissan menjadi salah satu produsen otomotif yang cukup terbuka membahas penggunaan AI untuk mengawasi pekerjanya. Padahal, banyak perusahaan lain yang enggan memublikasikan penerapan teknologi serupa di lini produksi mereka.
Golden Cycle dan Pemantauan Postur Tubuh
Chi Amaechi, process engineer Nissan yang juga mantan safety engineer, menjelaskan bahwa pabrik Canton memiliki apa yang disebut "golden cycle" untuk setiap pekerjaan. Konsep ini merupakan standar cara kerja yang mencakup urutan pemasangan komponen, waktu pengerjaan, serta gerakan tubuh yang dirancang untuk mengurangi cedera akibat gerakan berulang.
"What it does is it monitors body angles proactively. It's basically identifying your joints, so it can identify when a person is bending in a position that's beyond the safety requirement," kata Amaechi saat menunjukkan demonstrasi virtual sistem tersebut.
Sistem AI ini mampu mendeteksi ketika seorang karyawan membungkuk terlalu jauh atau mempertahankan posisi tidak aman terlalu lama, lalu menandai potensi risiko tersebut untuk manajer pabrik. Supervisor dan engineer kemudian bisa menggunakan informasi itu untuk melatih pekerja, mengalokasikan ulang tugas, atau mendesain ulang stasiun kerja.
Amaechi menyebut teknologi ini menggantikan observasi manual yang memakan waktu dan sering kali tidak konsisten. Pasalnya, karyawan cenderung mengubah perilaku mereka ketika mengetahui sedang diawasi langsung oleh manusia.
Penghematan Jutaan Dolar
Menurut Taylor, Nissan awalnya mengevaluasi teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi manufaktur dan membantu melatih pekerja baru. Manfaat ergonomis justru muncul belakangan dan menjadi temuan yang paling berharga.
"We weren't originally looking for that. It just kind of shown itself as, this is the biggest win," jelas Taylor. Secara keseluruhan, teknologi ini berkontribusi pada penghematan sekitar 34 juta dolar AS terkait keselamatan dan kesehatan di pabrik Canton.
Teknologi ini juga menjadi bagian dari respons Nissan terhadap tenaga kerja yang menua. "We have employees that have been in the plant 20, 30-some odd years, and they want to retire. You can't replace 20, 30 years of know-how," tambah Taylor.
Karyawan dilibatkan sejak awal melalui komite keselamatan pabrik. Taylor dan Amaechi mengakui bahwa para pekerja awalnya khawatir teknologi ini akan mengancam pekerjaan mereka, tetapi menjadi lebih reseptif setelah Nissan memperkenalkannya sebagai alat keselamatan dan pelatihan.
Baca Juga:
Ekspansi ke Pabrik Lain
Saat ini, sistem AI tersebut baru diterapkan di pabrik Canton. Taylor mengungkapkan bahwa Nissan berencana menyelesaikan penerapan di sana sebelum memperluasnya ke pabrik perakitan Smyrna, Tennessee, serta mengevaluasi aplikasi di fasilitas powertrain.
Penerapan teknologi ini berjalan di tengah masa transisi Nissan yang cukup menantang. Perusahaan baru saja mengganti CEO Makoto Uchida dengan Ivan Espinosa pada April 2025, setelah negosiasi merger dengan Honda gagal. Espinosa kemudian memperkenalkan rencana pemulihan yang berfokus pada pemotongan lapangan kerja dan pengurangan kapasitas produksi.
Lini perakitan Canton juga terkena dampak pemotongan tersebut. Pada Mei lalu, Nissan membatalkan rencana investasi 500 juta dolar AS untuk memproduksi kendaraan listrik di pabrik tersebut.
Kabar Baik di Tengah Transformasi
Meski menghadapi berbagai tantangan, Nissan menunjukkan tanda-tanda awal pemulihan. Pada Senin lalu, perusahaan melaporkan laba bersih kuartalan pertama dalam dua tahun terakhir, didorong oleh pengurangan biaya dan penjualan yang lebih kuat di AS dan Jepang.
Penjualan Nissan di AS naik hampir 10 persen selama kuartal tersebut. Perusahaan bahkan menyebut dirinya sebagai merek mainstream dengan pertumbuhan tercepat dalam 10 bulan terakhir.
Penerapan AI di pabrik Canton menjadi contoh bagaimana teknologi dapat meningkatkan keselamatan kerja tanpa mengorbankan produktivitas. Pendekatan ini selaras dengan tren industri otomotif global yang semakin mengandalkan Sensor AI untuk berbagai keperluan, termasuk efisiensi produksi.
Ke depan, keberhasilan program ini di Canton akan menjadi tolok ukur bagi ekspansi teknologi serupa ke fasilitas Nissan lainnya. Jika terbukti efektif, bukan tidak mungkin sistem pemantauan berbasis AI ini akan menjadi standar baru di seluruh pabrik Nissan di Amerika.
[TITLE_END]