Technologue.id, Jakarta – Mengukur kadar lemak tubuh menggunakan timbangan atau jam tangan pintar sudah menjadi hal yang umum. Namun, mengetahui kapan tubuh benar-benar mulai membakar lemak masih menjadi tantangan karena biasanya memerlukan pemeriksaan laboratorium.

Kini, para ilmuwan mengembangkan sebuah perangkat portabel yang diklaim mampu mendeteksi proses pembakaran lemak hanya melalui hembusan napas.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Device ini dipimpin oleh Andreas Güntner bersama timnya. Mereka menciptakan alat berbentuk breathalyzer atau alat pengukur napas yang mampu mengukur kadar aseton dalam napas seseorang untuk mengetahui apakah tubuh sedang membakar lemak sebagai sumber energi.

Dalam uji coba yang melibatkan 12 peserta, perangkat tersebut digunakan untuk memantau kondisi tubuh saat menjalani berbagai pola makan dan aktivitas olahraga. Hasilnya, pengukuran dari alat portabel ini dinilai sangat mendekati hasil pemeriksaan laboratorium yang selama ini menjadi standar.

Saat tubuh mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi, kondisi ini dikenal sebagai ketosis. Proses tersebut menghasilkan zat sampingan berupa keton dalam darah dan aseton yang keluar melalui napas.

Selama ini, kadar aseton umumnya diukur di laboratorium karena hasilnya dapat dipengaruhi oleh kelembapan udara maupun pola pernapasan seseorang.

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim peneliti mengembangkan alat yang mampu menyaring kelembapan dan berbagai kontaminan pada napas sebelum melakukan pengukuran.

Perangkat ini juga dilengkapi aplikasi pendamping yang memberikan panduan kepada pengguna mengenai cara bernapas yang benar selama proses pengujian. Aplikasi tersebut dapat mendeteksi jika pengguna meniup terlalu kuat atau terlalu pelan, sekaligus menentukan waktu terbaik untuk mengambil sampel napas agar hasilnya lebih akurat.

Perangkat yang kini dipasarkan dengan nama Nutrion itu memiliki konsep yang mirip dengan perangkat lain bernama Lumen. Bedanya, Lumen memperkirakan pembakaran lemak dengan mengukur kadar karbon dioksida dalam napas, sedangkan Nutrion menggunakan kadar aseton yang dianggap lebih langsung berkaitan dengan proses pembakaran lemak.

Para peneliti menilai perangkat seperti ini berpotensi dimanfaatkan dalam berbagai bidang kesehatan. Selain membantu seseorang memantau efektivitas program diet atau olahraga, alat tersebut juga dapat digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan terapi penurunan berat badan, termasuk penggunaan obat golongan GLP-1.

Bagi atlet, informasi mengenai kondisi metabolisme tubuh secara real-time juga dinilai dapat membantu menyusun strategi latihan dan nutrisi agar performa menjadi lebih optimal.