Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri, M.S. mencoba VR di Virtual Brawijaya Museum (Ulwan/Technologue.id)[/caption]
Saat ditanya susahnya mengintegrasikan sejarah dengan teknologi, Gusti Pangestu menjelaskan, "Yang paling susah menggali sejarahnya, kalau bikinnya [multimedia] enggak susah. Karena kalau kita publish sesuatu, pasti ada orang yang setuju atau tidak. Namanya juga sejarah, kan."
Untuk mengantisipasi hal tersebut, tim PSP sebelumnya telah mengadakan focus group discussion (FGD) bersama para ahli ilmu sejarah untuk menyatukan pandangan-pandangan yang ada terkait sejarah yang diteliti. Salah satu contohnya adalah bagaimana buku-buku sejarah banyak menceritakan kalau Brawijaya V jatuh karena Kerajaan Demak.
"Tapi ada sejarawan yang tidak setuju. 'Enggak gitu mas, Indonesia dulu itu damai.' Menyatukan beragam pendapat ini yang susah," tambah Ketua Tim IT Virtual Museum Brawijaya itu.
[caption id="attachment_10164" align="alignnone" width="673"]
Pengunjung mencoba salah satu model augmented reality yang dipamerkan di Virtual Museum Brawijaya (Ulwan/Technologue.id)[/caption]
Ke depannya, pembangunan gedung mandiri Virtual Museum Brawijaya bakal coba diwujudkan. Namun proyek terdekatnya, tim akan membikin web yang menampung database multimedia sejarah yang lengkap dulu.
Baca juga:
Harga VR Headset Google Ternyata Murah!
Ini Spek Minimum PC Agar Kompatibel dengan VR Headset Microsoft
Sony PlayStation VR kini sambangi gamer di Indonesia, harganya?