Baca Juga: Amerika Hasut Korea Selatan Ikut Boikot Huawei
Dikutip dari PhoneArena (22/5/2019), Analis Goldman mengungkap, alih-alih membalas perlakukan AS terhadap Huawei, pemerintah China akan meningkatkan biaya Apple sebesar 29 persen dari laba bersih 2019, atau US$ 3,35 per saham. Tahun fiskal lalu, Apple memiliki laba bersih sebesar US$ 59,5 miliar sehingga larangan iPhone di Cina dapat menelan biaya Apple lebih dari US$ 17 miliar. Banyak yang berharap, China tidak melakukan pembatasan dagang iPhone karena dapat membahayakan ekonomi China. Lagi pula, Apple membayar mahal untuk mengontrak pabrikan Foxconn untuk merakit iPhone. Faktanya, karena Apple bergantung pada perusahaan seperti Foxconn dan Pegatron untuk memproduksi smartphone-nya, handset tersebut dianggap sebagai ekspor dari Cina dan dapat dikenakan tarif AS di masa mendatang. Sementara jika iPhone dilarang di China, Apple akan dipaksa untuk memotong produksi perangkat, yang dapat menyebabkan PHK besar-besaran terhadap pekerja lini produksi Cina. Dengan ekonomi yang sudah menderita akibat perang dagang, rencana ini adalah sesuatu yang akan dihindari oleh pemerintah di sana.Baca Juga: Dicekal Berbagai Pihak, Panasonic Masih Dukung Huawei
Saat ini iPhone memiliki pangsa pasar sebesar 7 persen di Cina selama kuartal pertama tahun ini. Angka ini mengalami penurunan dari 9,1 persen yang diperolehnya sepanjang tahun 2018. Meski iPhone masih boleh dijual, di sisi lain penjualan iPhone Apple di Cina akan terus mengalami penurunan. Kondisi ini terjadi akibat persaingan yang sengit diantara pemain lokal sebut saja Huawei, Xiaomi, OnePlus, dan masih banyak lagi. Analis melihat kemerosotan pangsa pasar Apple terus menurun di Cina juga dipicu oleh exclusifitas yang diterapkan perusahaan premium itu. "Mengesampingkan masalah politik, penawaran produk dan strategi penetapan harga Apple akan menjadi alasan utama di balik penurunan (pangsa pasar)," kata Zaker Li, analis dari IHS Markit.