Jakarta — Kecerdasan buatan (AI) kini semakin mendominasi pengambilan keputusan krusial di berbagai cabang olahraga. Mulai dari sepak bola hingga tenis, teknologi seperti VAR dan Hawk-Eye telah menjadi andalan untuk memastikan akurasi. Namun, ketika sistem ini mengalami eror, pertanyaan besar muncul soal siapa yang bertanggung jawab.

Insiden di Wimbledon 2025 menjadi contoh nyata. Petenis Anastasia Pavlyuchenkova menghentikan permainan setelah mendengar sinyal "out", tetapi ternyata itu adalah gangguan teknis pada sistem pemanggil bola otomatis. Akibatnya, poin harus diulang karena tidak ada mekanisme peninjauan ulang untuk situasi tersebut.

Kejadian ini memicu perdebatan sengit tentang peran AI dalam olahraga. Untuk pertama kalinya, turnamen Grand Slam menyaksikan AI menjadi pusat kontroversi. Pertanyaan mendasarnya adalah: jika algoritma menjadi pengambil keputusan akhir, siapa yang bertanggung jawab saat algoritma tersebut keliru?

Dalam waktu kurang dari satu dekade, AI telah menjadi bagian integral dari sistem penjurian di banyak cabang olahraga. Di sepak bola, Video Assistant Referee (VAR) menggunakan jaringan kamera dan computer vision untuk menganalisis posisi offside, pelanggaran, hingga handball. FIFA bahkan telah menerapkan Sistem Offside Semi-Otomatis (SAOT) di Piala Dunia.

Teknologi SAOT menggabungkan sensor sensitif di dalam bola dengan belasan kamera AI untuk melacak pergerakan pemain secara real-time. Sementara itu, di arena tenis, teknologi Hawk-Eye hampir sepenuhnya menggantikan peran hakim garis di banyak turnamen besar.

Sistem Hawk-Eye mengandalkan kamera berkecepatan tinggi untuk membangun model tiga dimensi dari lintasan bola. Hasilnya, AI mampu menentukan apakah bola masuk atau keluar dengan tingkat kesalahan hanya beberapa milimeter. Ini menunjukkan betapa canggihnya teknologi yang digunakan.

Berbeda dari model AI generatif seperti ChatGPT, sistem penjurian ini tidak "berpikir" atau membuat spekulasi sendiri. Mereka murni memproses data mentah dari kamera serta sensor menggunakan algoritma yang sudah diprogram. Keputusan pun dihasilkan dalam hitungan detik.

Menurut FIFA, UEFA, dan Federasi Tenis Internasional (ITF), penerapan AI berhasil memangkas kesalahan keputusan secara signifikan. Teknologi ini juga mempercepat durasi peninjauan dan meminimalkan perdebatan panjang di lapangan. Keuntungan instan inilah yang membuat AI diberi wewenang semakin besar.

Namun, akurasi hanyalah sebagian dari cerita. Ketika AI mulai memegang kendali penuh atas keputusan seperti bola masuk-keluar atau offside, otoritas pengadil lapangan perlahan bergeser. Peluit wasit kini digantikan oleh barisan kode algoritma.

Insiden Wimbledon 2025 bukan satu-satunya momen saat AI memicu perdebatan. Pada Piala Dunia 2026, dalam laga antara Portugal dan Kroasia, sistem VAR yang mengombinasikan AI dan sensor bola "Trionda" menganulir gol penyeimbang Kroasia. Berdasarkan data sistem, bola sempat menyentuh tipis rambut penyerang sebelum masuk gawang.

Dua insiden ini menunjukkan dua keterbatasan AI yang berbeda. Di Wimbledon, sistem mengalami kegagalan teknis murni. Sedangkan di Piala Dunia, sistem tidak salah secara data. Namun, akurasi ekstrem hingga hitungan milimeter memicu pertanyaan filosofis tentang keadilan.

Secara regulasi tertulis, keputusan akhir tetap berada di tangan wasit utama. Namun, pada realitasnya di turnamen seperti Wimbledon, wasit hampir tidak punya kuasa untuk menganulir hasil dari sistem Electronic Line Calling. Kondisi ini menciptakan ruang hampa tanggung jawab.

Ketika AI membuat keputusan keliru, beban kesalahan terbagi bias di antara federasi penyelenggara, vendor teknologi, dan tim operator. Pada akhirnya, tidak ada satu pihak pun yang benar-benar bertanggung jawab langsung kepada atlet yang dirugikan.

Ahli matematika David Sumpter menilai bahwa organisasi olahraga mengadopsi teknologi jauh lebih cepat ketimbang merancang mekanisme regulasi. Dengan kata lain, AI sudah terlanjur melangkah ke lapangan sebelum "aturan main" untuk AI itu sendiri selesai dibuat.

Dampak buruknya langsung dirasakan oleh para atlet. Ketika wasit manusia membuat kesalahan, atlet masih bisa beradu argumen atau mengajukan protes. Namun, saat algoritma yang melakukan kesalahan, sang atlet hanya bisa pasrah karena tidak ada ruang dialog dengan AI.

Tidak bisa dipungkiri bahwa AI telah membuat dunia olahraga menjadi jauh lebih akurat. Namun, olahraga tidak pernah hanya berjalan di atas angka-angka statistik yang presisi. Sebuah keputusan yang benar tetap membutuhkan penjelasan, dan keputusan yang salah tetap menuntut pihak yang bertanggung jawab.

Hingga detik ini, AI baru bisa memenuhi tuntutan akurasi. Sementara untuk urusan tanggung jawab, hal tersebut masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum berhasil dipecahkan oleh kompetisi olahraga dunia. Ini adalah tantangan yang harus segera diatasi.