Technologue.id, Jakarta - Sebuah laporan dari Reuters mengungkap praktik kontroversial di internal Meta, di mana aktivitas karyawan seperti ketukan keyboard, gerakan mouse, dan klik disebut direkam untuk melatih model kecerdasan buatan (AI). Temuan ini langsung dikonfirmasi oleh pihak perusahaan, memicu perdebatan soal privasi dan etika di lingkungan kerja.
Dalam pernyataan kepada Engadget, juru bicara Meta menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari pengembangan teknologi berbasis AI. “Jika kami membangun agen untuk membantu orang menyelesaikan tugas sehari-hari menggunakan komputer, model kami membutuhkan contoh nyata tentang bagaimana orang benar-benar menggunakannya,” ujar perwakilan perusahaan.
Meta juga mengungkapkan telah meluncurkan alat internal yang merekam jenis input tertentu pada aplikasi tertentu guna mendukung pelatihan model tersebut.
Pengakuan ini langsung memicu reaksi publik, terutama terkait tingkat pengawasan yang dinilai sangat mendalam terhadap aktivitas karyawan. Dalam praktik kerja di Amerika Serikat, perubahan tugas atau metode kerja memang dapat dilakukan perusahaan tanpa penjelasan rinci. Namun, penerapan sistem pemantauan hingga ke level interaksi dasar pengguna dinilai sebagai langkah yang tidak lazim dan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan.
Penggunaan teknologi serupa di luar konteks kerja bahkan kerap dikaitkan dengan pelanggaran hukum, termasuk undang-undang seperti Computer Fraud and Abuse Act yang mengatur akses ilegal terhadap sistem komputer. Hal ini membuat sebagian pihak mempertanyakan batasan etis penggunaan teknologi pemantauan di tempat kerja.
Selain isu privasi, muncul pula kekhawatiran bahwa data yang dikumpulkan dapat digunakan untuk mengembangkan sistem otomatis yang berpotensi menggantikan pekerjaan manusia. Dalam skenario ini, aktivitas yang saat ini dilakukan karyawan justru menjadi bahan pelatihan bagi sistem yang nantinya mengambil alih peran mereka.
Meski data berkualitas tinggi memang menjadi fondasi penting bagi pengembangan model AI modern, praktik pengumpulan data karyawan dalam skala besar dinilai sensitif. Apalagi, Meta diketahui memiliki basis pengguna global yang mencapai miliaran orang, yang secara teoritis dapat menjadi sumber data alternatif—meski pendekatan tersebut juga berisiko memicu kontroversi privasi yang lebih besar.
Hingga kini, Meta belum memberikan kejelasan terkait sejumlah aspek penting, seperti apakah karyawan memiliki opsi untuk menolak partisipasi dalam pengumpulan data tersebut, atau apakah ada kompensasi yang diberikan atas penggunaan aktivitas mereka.