Jakarta – Istilah passive income semakin populer di media sosial. Banyak orang mendambakan penghasilan tambahan tanpa harus bekerja ekstra. Namun, satu kesalahan mendasar sering menghalangi impian ini terwujud.
Kesalahan itu adalah anggapan bahwa investasi harus dimulai dengan modal besar. Banyak orang menunda memulai karena merasa belum memiliki dana yang cukup. Padahal, kenyataannya berbeda.
Survei Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey mencatat biaya hidup menjadi kekhawatiran utama. Sebanyak 39 persen Gen Z dan 42 persen milenial mengaku khawatir dengan biaya hidup. Bahkan, 48 persen Gen Z dan 46 persen milenial belum merasa aman secara finansial.
Di sisi lain, akses masyarakat terhadap layanan keuangan terus meningkat. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan inklusi keuangan Indonesia mencapai 80,51 persen. Sementara itu, literasi keuangan masih di angka 66,46 persen.
Artinya, semakin banyak orang menggunakan layanan keuangan. Namun, pemahaman mengelola keuangan secara optimal masih minim. Hal ini menjadi celah yang perlu diisi dengan edukasi.
Menurut Ivan Kusuma, Head of Investment and Insurance DANA, mitos terbesar tentang passive income adalah harus bermodal besar. “Faktanya, yang paling menentukan bukan seberapa besar uang yang dimiliki, tapi seberapa cepat seseorang mulai berinvestasi dan konsisten membangun aset sesuai tujuan finansialnya,” ujar Ivan.
Kemudahan akses investasi digital kini menjadi solusi. Masyarakat bisa mulai membangun passive income tanpa menunggu modal besar. Salah satu instrumen yang populer adalah reksa dana.
Reksa dana dikelola oleh manajer investasi profesional. Instrumen ini bisa diakses dengan nominal yang relatif terjangkau. Hal ini membuatnya cocok bagi investor pemula.
Tren ini mendorong hadirnya fitur DANA+ di aplikasi DANA. Fitur ini memungkinkan saldo pengguna berpotensi bertumbuh. Minimal isi saldo mulai dari Rp10.000 saja.
Saldo DANA+ ditempatkan pada reksa dana pasar uang. Potensi imbal hasil harian bisa didapatkan pengguna. Menariknya, saldo tetap bisa digunakan untuk bertransaksi.
Dengan begitu, uang yang tersimpan menjadi lebih produktif. Fleksibilitas pengguna tidak berkurang sama sekali. Sejak awal 2026, lebih dari 14 juta pengguna telah menggunakan DANA+.
Fitur ini dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari menyiapkan dana darurat hingga rencana keuangan masa depan. Hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap investasi digital.
Baca Juga:
Meski akses semakin mudah, edukasi tetap menjadi faktor penting. Ivan menilai masyarakat perlu memahami bahwa passive income adalah proses jangka panjang. Bukan cara untuk memperoleh keuntungan instan.
“Passive income seharusnya tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang hanya bisa dicapai segelintir orang. Dengan akses yang semakin mudah dan edukasi yang tepat, semakin banyak masyarakat bisa mulai membangunnya secara aman dan berkelanjutan,” tutup Ivan.
DANA+ adalah fitur investasi di aplikasi DANA. Fitur ini memungkinkan pengguna berinvestasi pada produk Reksa Dana Pasar Uang. Produk tersebut dikelola oleh STAR AM dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Investasi reksa dana tetap mengandung risiko. Pengguna disarankan membaca Prospektus dan Fund Fact Sheet sebelum berinvestasi. Dengan pemahaman yang baik, Investasi Digital bisa menjadi langkah awal membangun passive income.
Kuncinya adalah memulai sekarang, sekecil apa pun. Konsistensi dan edukasi akan membawa hasil di masa depan. Jangan biarkan mitos modal besar menghalangi langkah Anda.