Technologue.id, Jakarta – Rumah Sakit Mitra Keluarga mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional rumah sakit sekaligus memberikan lebih banyak waktu bagi tenaga kesehatan untuk fokus melayani pasien. Alih-alih menggantikan peran dokter maupun perawat, AI dari Amazon Web Service (AWS) digunakan untuk mengurangi berbagai pekerjaan administratif yang selama ini menyita waktu mereka.
Saat ini, Mitra Keluarga melayani jutaan pasien melalui jaringan 32 rumah sakit. Seiring meningkatnya jumlah layanan, rumah sakit menghadapi tantangan untuk menjaga kualitas pelayanan medis sekaligus memastikan proses operasional berjalan lebih efisien.
Menurut Yosep Sutrisno, Chief Information Officer di RS Mitra Keluarga, hasil evaluasi di lapangan menunjukkan bahwa dokter dan perawat masih menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan administratif. Kondisi tersebut dinilai mengurangi waktu yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk berinteraksi dan memberikan perawatan kepada pasien.
"Tujuan utama kami menggunakan AI adalah agar tenaga kesehatan bisa lebih fokus melayani pasien. Waktu yang selama ini tersita untuk pekerjaan administratif bisa dikembalikan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik," jelas Yosep.
Sebagai tahap awal, Mitra Keluarga memilih menerapkan AI pada proses bisnis yang paling mudah dioptimalkan, yakni di divisi Human Resources (HR) dan pengembangan sistem teknologi informasi (IT).
Pada proses rekrutmen, AI kini membantu tim HR dalam menyaring ribuan CV yang masuk setiap bulan, sehingga proses seleksi kandidat menjadi lebih cepat dibandingkan ketika seluruh tahapan dilakukan secara manual.
Implementasi tersebut disebut berhasil menghemat sekitar 2.300 jam kerja di divisi HR.
Sementara itu, pada tim pengembangan aplikasi, AI dimanfaatkan untuk membantu proses penulisan kode program. Sebelum menggunakan AI, seorang pengembang rata-rata mampu menghasilkan sekitar 1.000 hingga 2.000 baris kode setiap bulan. Setelah memanfaatkan AI, produktivitas tersebut meningkat menjadi sekitar 10.000 hingga 20.000 baris kode per bulan.
Peningkatan produktivitas tersebut juga membantu mempercepat penyelesaian berbagai permintaan pengembangan sistem yang sebelumnya menumpuk.
Mitra Keluarga menegaskan bahwa AI tidak digunakan untuk menggantikan peran karyawan. Teknologi ini berfungsi sebagai asisten yang membantu mempercepat pekerjaan, sementara hasil akhirnya tetap harus divalidasi oleh manusia.
Perusahaan mengakui bahwa ketika pertama kali diimplementasikan pada April lalu, kemampuan AI masih terbatas karena belum memahami kebutuhan dan lingkungan kerja perusahaan. Namun, seiring waktu, model AI generatif yang digunakan terus belajar sehingga hasil yang diberikan menjadi semakin relevan dengan kebutuhan operasional.
Setelah implementasi awal di HR dan pengembangan sistem menunjukkan hasil positif, Mitra Keluarga berencana memperluas pemanfaatan AI ke layanan klinis.
Target perusahaan pada 2026 adalah menghadirkan AI di berbagai tahapan perjalanan pasien, mulai dari proses membuat janji temu (appointment), pelayanan selama berada di rumah sakit, hingga layanan setelah pasien selesai berobat (post-visit).
Saat ini, implementasi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan, sementara penggunaan AI yang telah berjalan baru mencakup proses HR dan pengembangan aplikasi.