Baca juga:
Apakah Akun Anda Sudah Pernah Dibobol Orang? Begini Cara Cari Tahunya
Kendati belum bisa dipastikan apakah serangan malware tersebut adalah WannaCry, Jakub Kroustek, Threat Lab Team Lead Avast, memperingatkan bahwa WannaCry belum sepenuhnya musnah. "Ransomware Wannacry tetap aktif dan terus menyebar pada tingkat yang lebih lambat dibandingkan dengan kecepatan serangan di awal-awal ditemukan. Harus dipastikan apakah serangan terhadap Boeing terkait dengan WannaCry dengan cara, bentuk, atau bentuk apa pun," katanya pada Technologue.id (02/04/2018).Baca juga:
Siapa Kira? Game dan Browser Ini Ternyata Malware Miner Cryptocurrency!
Kroustek menambahkan bahwa belakangan, mereka memantau Indonesia tengah jadi target empuk WannaCry. Serangan WannaCry di Indonesia yang tercatat oleh Avast bahkan jauh lebih banyak dari Amerika Serikat yang "hanya" 70.000 serangan. "Bulan ini, kami memblokir 1,7 juta serangan WannaCry pada pengguna kami di Indonesia, 1,2 juta di India dan 1,1 juta di Brasil. Ini adalah tiga pasar teratas," tambahnya.Baca juga:
WannaCry sendiri punya efek destruktif yang tak bisa disepelekan. Malware dengan codename Eternal Blue itu mengeksploitasi celah di Windows, yang memungkinkan penyerangnya mengenkripsi sistem atau data korban dan menyanderanya. Bila korban ingin data tersebut dikembalikan, mereka harus membayar tebusan pada penyerang, kendati tak ada jaminan kalau setelah tebusan itu dibayarkan si penjahat siber itu bakal menepati janjinya.