Technologue.id, Jakarta – Sebuah konsorsium bisnis yang dipimpin oleh Visa, Mastercard, dan Coinbase resmi meluncurkan jaringan stablecoin baru bernama Open Standard. Inisiatif tersebut melibatkan lebih dari 140 perusahaan yang berkolaborasi untuk mempercepat adopsi stablecoin di tingkat global.

Menurut laporan Reuters, konsorsium tersebut berencana meluncurkan stablecoin yang dipatok terhadap dolar Amerika Serikat dengan nama Open USD. Mata uang digital tersebut ditargetkan mulai tersedia bagi pengguna pada akhir tahun 2026.

Open Standard dibentuk dengan tujuan menghadirkan infrastruktur stablecoin yang lebih terbuka dan mudah digunakan oleh berbagai pelaku bisnis. Berbeda dengan aset kripto seperti Bitcoin yang memiliki volatilitas tinggi, stablecoin dirancang untuk mempertahankan nilai yang stabil karena didukung oleh aset acuan, dalam hal ini dolar AS.

CEO Open Standard, Zach Abrams, mengatakan bahwa meskipun sejumlah stablecoin yang ada saat ini telah memiliki pengaruh besar di pasar, masih terdapat kebutuhan akan solusi yang lebih terbuka dan efisien untuk penggunaan skala besar.

“Stablecoin yang ada memiliki kekuatan yang besar, tetapi untuk menggunakannya dalam skala besar, bisnis membutuhkan sesuatu yang terbuka, berbiaya rendah, berkinerja tinggi, mudah diakses secara luas, dan selaras dengan kepentingan mereka,” ujar Abrams kepada Reuters.

Meski popularitas stablecoin terus meningkat, berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaannya masih didominasi untuk aktivitas perdagangan aset kripto dibandingkan transaksi pembelian barang dan jasa sehari-hari. Melalui Open USD, konsorsium berharap dapat memperluas fungsi stablecoin sebagai alat pembayaran yang lebih praktis dan diterima secara luas.

Peluncuran Open USD juga terjadi di tengah meningkatnya perhatian regulator terhadap industri aset digital. Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menandatangani Undang-Undang GENIUS yang menciptakan kerangka regulasi khusus bagi stablecoin.

Aturan tersebut mewajibkan setiap penerbit stablecoin memiliki cadangan aset dengan rasio 1:1 terhadap jumlah token yang beredar. Selain itu, regulasi baru juga mencakup ketentuan anti pencucian uang serta perlindungan konsumen apabila penerbit mengalami kebangkrutan.

Perkembangan ini menandai semakin eratnya hubungan antara sektor keuangan tradisional dan industri aset digital. Sebelumnya, PayPal juga telah meluncurkan stablecoin sendiri bernama PayPal USD pada 2023. Hingga kini, nilai PYUSD relatif stabil dan tetap berada di sekitar level US$1.