Baca Juga: Pecat 30 Persen Karyawannya, Perusahaan Sang “Bapak Android” Goyang?
Nokia mengumumkan rencana penghematan biaya terbaru pada bulan Oktober 2018 lalu. Setelah ini, perusahaan juga masih harus menyelesaikan program pengurangan biaya hingga 1,2 miliar euro, akibat akuisisi Franco-American Alcatel-Lucent pada 2016. Buntut pengumuman ini, saham perusahaan turun 0,7 persen. Performa bisnis jaringan Nokia dilaporkan mengalami hambatan oleh permintaan yang melambat selama bertahun-tahun untuk jaringan 4G yang ada, disamping juga adanya keraguan dari investor tentang kapan kontrak 5G baru dapat mulai meningkatkan profitabilitas.Baca Juga: Terdepan dalam Teknologi 5G, Nokia Siap Dukung Infrastruktur Indonesia
Kondisi ini bukan hanya dialami oleh Nokia saja, tetapi juga oleh pemain lain seperti Ericsson dari Swedia dan Huawei dari China. Nokia dan Ericsson mungkin dapat memanfaatkan situasi pembatasan penggunaan perangkat Huawei di Amerika Serikat dan beberapa sekutunya, namun sejauh ini efeknya belum terasa. "Pengembangan awal bisnis 5G kami telah kuat dan kami akan meningkatkan investasi kami ke dalam teknologi kritis ini," ungkap Uitto.