Baca Juga: Startup Nusantics Produksi Alat Tes Corona
Perangkat Pendeteksi Wabah Pemerintah Tiongkok telah dikritik karena lamban dalam penanganan wabah, terutama mendiagnosis pasien COVID-19 pertamanya dan memberitahu otoritas kesehatan dunia. Namun, sebuah perusahaan asal Kanada, BlueDot, mampu mendeteksi wabah bahkan beberapa hari sebelum laporan awal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkannya. Algoritma BlueDot menggunakan sinyal peringatan dini dengan menerapkan sistem bahasa dan pembelajaran mesin pada pusat data, termasuk liputan berita, jalur penerbangan dunia, dan laporan pemerintah. Kualitas algortima tergantung pada data yang dimasukkan. Saat ini, algoritma BlueDot masih bergantung pada data layanan kesehatan dari luar, yakni data rekam medis elektronik dan monitor kesehatan pribadi, seperti Fitbits, dapat memberikan prediksi ekstra. Di sisi lain, ketersediaan data pribadi berpeluang melanggar standar privasi dan keamanan seseorang. Diagnosis Cepat Kekhawatiran terhadap kemampuan mendiagnosis yang kurang telah meningkat karena ruang lingkup darurat kesehatan masyarakat menjadi jelas. Di Amerika Serikat tes yang diluncurkan CDC, yang memperkuat sampel DNA melalui reaksi polimerase, terkadang gagal karena "komponen yang salah". Dalam kasus tersebut, laboratorium harus mengirim sampel mereka ke CDC, hal itu mengakibatkan keterlambatan dalam memperoleh hasil uji dan membuat pejabat lamban dalam memahami penyebaran penyakit. Kasus baru dapat didiagnosis bergantung hanya pada urutan DNA, membuat beberapa patogen harus dideteksi secara bersamaan dan tidak memerlukan uji ulang untuk setiap virus baru. Dari sebelas tes, hanya satu berbasis urutan yang digunakan saat ini. Tetapi metode ini akan menjadi lebih umum karena biaya pengurutan menurun dan analisis genetik meningkat. Perawatan Jarak Jauh Dalam kasus wabah, penyedia layanan kesehatan paling berdampak. Lebih dari 3.000 petugas kesehatan di Tiongkok telah terinfeksi, seringkali setelah merawat pasien tanpa alat pelindung yang tepat. Beberapa negara telah beralih pada pengobatan jarak jauh untuk pasien COVID-19. Pusat Medis Sheba Israel, yang merawat dua belas penumpang kapal Diamond Princess, menerapkan pemantauan jarak jauh dan distribusi obat robotik yang dikontrol oleh dokter dan perawat. Peningkatan teknologi robotika membuatnya lebih mudah untuk membuat pasien merasa benar-benar dirawat, bahkan dari kejauhan. Pembatasan Teknologi Meskipun teknologi sangat membantu di bidang kesehatan. Namun, WHO mungkin tetap tidak siap menghadapi pandemi. Infrastruktur yang mumpuni adalah dasar manajemen wabah. Tanpa itu, deteksi dini terhadap wabah tidak banyak berpengaruh. Memanfaatkan hasil tes cepat masih perlu mengerahkan sumber daya yang cepat ke pusat populasi yang membutuhkan. Demikian juga dengan pengobatan jarak jauh, rumah sakit akan memerlukan bantuan jika kekurangan dana yang memadai untuk staf dan peralatan. Ini merupakan investasi dasar dalam infrastruktur yang menggunakan teknologi mutakhir, idealnya akan tersedia jika virus berbahaya kembali muncul.