Baca juga:
CEO Uber: Taksi Terbang Siap Mengudara 5-10 Tahun Mendatang
Sementara "pelakunya" adalah sebuah mobil bertipe Volvo XC90s, yang sudah dimodifikasi dengan software dan hardware dari Uber, sehingga bisa berfungsi sebagai mobil otonom. Di saat kejadian sendiri, ada seorang yang berada di balik kemudi mobil maut tersebut, tetapi mobil yang bergerak dalam kecepatan 61 km/jam itu berada dalam mode self-driving. Belum lama, polisi Tempe merilis video detik-detik mobil otonom Uber menabrak dan membunuh seorang pejalan kaki itu. Dari video yang diunggah oleh Brahm Resnik, seorang jurnalis AS, di Twitter, tampak kalau seseorang yang berada di balik kemudi mobil tersebut tak waspada dan lebih fokus kepada ponselnya alih-alih memandangi jalanan. [embed]https://twitter.com/brahmresnik/status/976587029390663680?ref_src=twsrc%5Etfw&ref_url=https%3A%2F%2Fwww.cnet.com%2Froadshow%2Fnews%2Fuber-self-driving-fatal-car-crash-arizona%2F&tfw_creator=CNET&tfw_site=CNET[/embed]Baca juga:
Banyak Masalah, Uber Masih Bermimpi Sewakan Mobil Terbang
Sejumlah netizen, seperti pemilik akun @Simco_, berpendapat bahwa manusia di balik kemudi itulah yang seharusnya mengambil kontrol di situasi-situasi seperti ini. Akan tetapi, tak sedikit juga warganet yang kontra dengan argumen tersebut, dengan alasan sensor elektronik di self-driving car sejatinya mampu merespons lebih akurat dan responsif daripada supir manusia untuk menghindari kecelakaan fatal.Baca juga:
Seperti Ini Tampilan Dashboard Pemantau Taksi Online dari Pemerintah
CNET.com (21/03/2018) menuliskan kalau kasus ini masih terus diproses oleh kepolisian setempat dan pihak-pihak terkait, seperti Uber dan Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat. Uber sendiri sudah berbelasungkawa, menghentikan aktivitas mobil pintarnya, serta berkomitmen untuk bekerja sama dengan otoritas terkait.