Baca Juga: Jenderalnya Dihajar, Hacker Iran Retas Situs Pemerintahan AS
Sebagai Drone, MQ-9 Reaper tentu memiliki ukuran yang lebih kecil dan pengoperasian lebih murah dibanding pesawat tempur konvensional. Dengan lebar sayap 20 meter dan berat 2,2 ton, pesawat tanpa awak ini mampu melakukan manuver dengan lincah dan sulit terdeteksi.
Untuk sistem penargetannya, MQ-9 Reaper mengusung Multi-Spektral yang memiliki rangkaian sensor visual yang akurat untuk mencapai sasaran. Amerika sendiri sudah mengoperasikan drone ini sejak tahun 2007, dan pada September 2015, Amerika telah memiliki 93 drone MQ-9 di pangkalan militernya. Pada Drone MQ-9 Reaper ini juga mampu dipersenjatai 4 misil hellfire dengan daya ledak yang mampu menghancurkan tank musuh. Pada penyerangan terhadap Jenderal Soleimani, MQ-9 Reaper menggunakan misil Hellfire R9X ninja yang saat meledak melontarkan bilah-bilah pisau.Baca Juga: Polemik Natuna, Netizen Rindu Sikap Tegas Menteri Susi
Misil Hellfire R9X sendiri dikembangkan atas perintah presiden Barack Obama yang menginginkan senjata efektif dalam melumpuhkan musuh seperti pendahulunya Lockheed Martin AGM-114 Hellfire II, namun tidak memakan banyak korban sipil. Dikembangkan secara rahasia sejak 2017 dan baru diumumkan pada tahun 2019, misil yang memiliki panjang 1,6 meter dengan berat 49 kg ini mampu melesat dalam kecepatan 1,601 km/h. Selain membunuh Soleimani, misil Hellfire R9X ini juga telah membunuh dalang dibalik pengeboman USS Cole tahun 2000, Jamal Ahmad Mohammad Al Badawi. Abu Khayr al-Masri, anggota kepemimpinan al Qaeda juga direbut nyawanya dengan senjata ini.