Baca Juga: Ancaman Berita Hoax Soal Corona Tak Kalah Bahaya dengan Virusnya
Sebagai contoh, Ia menjelaskan bahwa pemerintah Korea Selatan mengembangkan aplikasi bernama 100M atau 100 meter, di mana warga mereka bisa menggunakan untuk mendeteksi riwayat jejak orang yang positif COVID-19. "Misalnya di satu titik di mana orang terkena infeksi atau positif Corona (misalnya rumahnya), itu dikasih tanda. Jadi, orang yang mendekati wilayah tersebut dikasih alert 'di sini ada korban Corona', sehingga orang bisa mencari alternatif rute lainnya," imbuhnya. "Ada China dan Singapura, mereka juga pakai aplikasi. Tiap orang sukarela untuk, semacam kayak kita pakai Google Maps, jadi kita masuk (daerah) sana, kemudian misalnya ada yang terdeteksi Corona, tracing lebih gampang. Nah, di kita pemanfaatan TIK belum banyak," tandas Heru.Baca Juga: Virus Corona Senggol Industri Telekomunikasi, Apa Solusinya?
Melihat serangkaian terobosan teknologi yang diusung negara lain, Heru berharap, pihak Kominfo melakukan tindakan serupa. Bukan hanya fokus memberangus hoaks saja. "Harus memang tugas dari ya teman-teman dari Kominfo khususnya, ini bagaimana bisa kembangkan. Antisipasi juga perkembangan work from home, belajar dari rumah, itu kesiapan jaringannya seperti apa, kemudian disiapkan aplikasi-aplikasi apa, koordinasi dengan Kemendikbud. Ini harus ada solusinya," terangnya. "Saya termasuk yang gregetan kalau fokusnya (Kominfo) hoax hoax hoax terus. Karena yang mematikan itu bukan hoaks sebenarnya, tetap adalah Corona," pungkas Heru. Ia kemudian memberi solusi, pemerintah bisa menyediakan suatu portal atau situs yang bisa diakses oleh semua orang berupa Geographic Information System (GIS). Sistem informasi khusus ini akan memuat daerah mana yang terdampak virus Corona, berapa besar orang bisa nge-klik, atau informasi rumah sakit rujukan.