Baca Juga: Gara-gara Ekosistem, HarmonyOS Belum Akan Gantikan Android?
Dari sisi desain, EMUI 10 menganut gaya desain di majalah (magazine-like aestathic), seperti headline dan ruang antar baris yang yang lebih lapang. Selain itu, Huawei juga menerapkan palet warna dari Giorgio Morandi untuk penyegaran warna secara dinamis. "EMUI 10 punya 6 warna dan Adaptive icon," tuturnya, saat memaparkan inovasi terbaru dari EMUI10, di kantor Huawei Indonesia, Jakarta, Selasa (27/8/2019). EMUI10 juga menambah moda gelap untuk memberikan visual yang lebih nyaman. Mode gelap mengoptimalkan kedua kontras warna di antara teks dan latar belakang gelap, serta warna teks dan ikon sistem. Hasil akhirnya memastikan konsistensi visual, kenyamanan, dan kejelasan. Untuk device boundary, sistem operasi custom ini memungkinkan pengguna untuk mengakses smartphone-nya langsung dari PC. Jadi, pengguna dapat mengakses termasuk mengoperasikan smartphone lewat PC berbasis Windows, seperti mengetik di keyboard atau menelusuri kursos layaknya mouse. "Teknologi ini dinamai Multiscreen Collaboration. Namun belum dapat dipastikan kehadirannya. Adapun fitur ini hanya mendukung sejumlah smartphone Huawei dengan Huawei Mate Book," ujar James. Bukan itu saja, EMUI10 turut mengadopsi teknologi terdistribusi yang revolusioner untuk mendukung video call resolusi HD antar banyak perangkat. Baca Juga: Huawei Mulai Distribusikan EMUI 9.1, Ini Daftar Smartphonenya Sementara untuk performanya, teknologi GPU Turbo telah meningkatkan efisiensi pemrosesan grafis hingga sejumlah 60 persen, sementara teknologi agregasi jaringan Link Turbo memungkinkan smartphone untuk mengakses banyak jaringan, seperti 4G dan WiFi untuk kecepatan 70 persen lebih tinggi dibanding hanya menggunakan 4G. Inovasi lain seperti EROFS super file system meningkatkan tingkat random read Android sebanyak 20 persen, dan juga Ark Compiler juga menghaluskan aplikasi pihak ketiga sebanyak 60 persen. Huawei akan meluncurkan EMUI 10 versi beta global pada September 2019.