Baca juga:
Google Lebur Android Pay dan Google Wallet
Tudingan sikap misoginis yang dialamatkan pada Google ini tertuang dalam gugatan hukum yang dikirimkan Chevalier beserta pengacaranya. Dalam tuntutan tersebut, pengacara Chevalier menyatakan kalau kliennya telah dihentikan secara tidak wajar dan Google telah melanggar hukum dengan membiarkan lingkungan kerjanya tak bersahabat. Chevalier turut menambahkan kalau alasan Google memecatnya, dengan mengklaim bahwa posting di media sosialnya berisi komplain diskriminasi yang ia alami terlalu bias. "Undang-undang anti-diskriminasi dimaksudkan untuk melindungi kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan kurang terwakili, bukan malah untuk menyerang mereka," katanya.Baca juga:
Google Ingin Deteksi Penyakit Jantung Lewat Tatapan Mata
Sementara itu, juru bicara Google, Gina Scigliano, menjelaskan bahwa Google sudah menekankan pada karyawannya kalau tindakan terkait streotyping berbasis ras atau sara adalah hal yang dilarang di tempat kerja. "Mayoritas karyawan kami berkomunikasi dengan cara yang sesuai dengan kebijakan kami. Tapi ketika seorang karyawan tidak, itu adalah sesuatu yang harus kita anggap serius. Kami selalu membuat keputusan tanpa memperhatikan pandangan politik karyawan," belanya.Baca juga:
Gelontorkan Rp 33 Triliun, Google Ingin Buat Data Center Baru
Belum lama ini, Google juga digugat mantan pegawainya, James Damore, yang justru mempertanyakan sikap pro terhadap keragaman Google. Damore menuntut Google karena dirasa mendiskriminasi para konservatif seperti dirinya.