Jakarta — Pendiri startup chatbot AI Replika, Eugenia Kuyda, memperingatkan bahwa kekhawatiran tentang AI yang menggantikan pekerjaan manusia adalah hal yang “wajar” dan bisa memicu protes besar-besaran. Kuyda, yang juga CEO platform mini-app bertenaga AI Wabi, menyampaikan pandangannya dalam sebuah episode live podcast Platformer.

Dalam podcast tersebut, Kuyda mengatakan bahwa dirinya yakin “protes gila-gilaan terkait pekerjaan dan AI akan mulai terjadi.” Ia menambahkan bahwa situasi di luar lingkungan industri teknologi cukup mengkhawatirkan. “Kita akan hidup di kota yang sangat optimistis yang semuanya tentang masa depan, masa depan, masa depan, tapi begitu kamu keluar dari sini, situasinya cukup menakutkan,” ungkap Kuyda kepada pendiri Platformer, Casey Newton.

Kuyda menegaskan bahwa orang-orang sudah sangat kesulitan mencari pekerjaan, dan kondisi ini diprediksi akan semakin buruk. Ia menolak argumen bahwa AI akan menciptakan lapangan kerja baru seperti revolusi teknologi sebelumnya. Menurutnya, banyak perusahaan, termasuk perusahaannya sendiri, sudah mulai mengurangi perekrutan untuk posisi entry-level.

“Mungkin teknologi perlu menciptakan narasi yang lebih baik tentang bagaimana ini akan terjadi, tapi saya tidak percaya pada ‘oh, ini hanya teknologi lain, dan kita akan memiliki lebih banyak — seperti radiolog masih ada’,” kata Kuyda. Ia menambahkan bahwa dirinya tidak lagi merekrut orang untuk pekerjaan junior, dan ia tidak tahu siapa yang masih melakukannya.

Mempekerjakan seseorang yang kurang berpengalaman, menurut Kuyda, “menjadi sangat mahal dan sama sekali tidak berkelanjutan untuk sebuah startup.” Ia menyebut hal ini sebagai “berita yang sangat buruk.” Saat dihubungi Business Insider, Kuyda menolak memberikan komentar lebih lanjut.

Kekhawatiran Kuyda ini sejalan dengan berbagai aksi protes yang telah terjadi di industri teknologi. Beberapa waktu lalu, sempat terjadi protes karyawan Meta terkait kebijakan AI internal perusahaan. Selain itu, ada juga insinyur AI Microsoft yang dipecat setelah melakukan protes di depan Bill Gates.

Meskipun khawatir tentang dampak AI terhadap lapangan kerja, Kuyda mengaku optimis dengan potensi teknologi yang berkembang pesat ini. Ia percaya AI dapat memungkinkan lebih banyak orang untuk membuat perangkat lunak dan membangun produk mereka sendiri. “Saya pikir gagasan bahwa kita semua bisa menjadi kreator dan bisa menyalurkan kreativitas kita lebih banyak, bisa membangun sesuatu yang sebelumnya dibatasi oleh pengembang atau desainer — saya pikir itu keren,” ujarnya.

Kuyda juga berpendapat bahwa AI bisa membuka peluang untuk sistem operasi yang benar-benar baru. Ia bahkan menilai ini mungkin pertama kalinya iPhone buatan Apple terlihat rentan. “Ini mungkin pertama kalinya dalam sejarah di mana iPhone agak rapuh,” katanya. “Mungkin ada cara untuk membangun sistem operasi yang lebih baik yang lebih melayani kita dibandingkan melayani perusahaan melalui aplikasi yang mereka buat.”

Pernyataan Kuyda ini menambah daftar panjang kekhawatiran para pemimpin industri teknologi tentang dampak AI. Sebelumnya, isu serupa juga menjadi sorotan di berbagai perusahaan besar. Misalnya, karyawan Meta memprotes kebijakan AI yang diterapkan Mark Zuckerberg. Sementara di industri lain, ByteDance menunda peluncuran Seedance 2.0 setelah diprotes studio Hollywood.

Fenomena protes terkait AI tidak hanya terjadi di internal perusahaan. Platform media sosial seperti TikTok juga pernah mendapat sorotan. Baru-baru ini, TikTok memblokir tagar #SkinnyTok setelah menuai protes dari berbagai kalangan.

Kuyda berharap industri teknologi dapat menciptakan narasi yang lebih jelas tentang masa depan pekerjaan di era AI. Tanpa hal itu, ia khawatir kesenjangan antara optimisme Silicon Valley dan realitas di lapangan akan semakin lebar. “Ini adalah masalah serius yang perlu segera diatasi,” pungkasnya.