Baca juga:
Hitachi Vantara: AI dan Block Chain Mendominasi Tren IT 2018
Senada dengan Weera, Ana Sopia, Country Manager NetApp Indonesia memberikan tanggapan. “Server dan storage merupakan dua hal yang berbeda. Namun satu kesatuan. Dalam satu kesatuan tersebut meliputi network, storage dan lainnya. NetApp sudah punya itu melalui solusi hyperconvergence yang baru diluncurkan,” ucap Ana. Ana menambahkan,”Hyperconvergence akan booming di tahun 2018 ini.” “Saat ini NetApp masih menyediakan data center konvensional untuk para pelanggan korporasi. Kita juga menjual solusi data center berbasis cloud ke provider cloud seperti Microsoft dan AWS,” tandas Ana. Ana melanjutkan, ”Bermodal kartu kredit, siapa saja bisa menikmati layanan storage berbasis cloud ini.”Baca juga:
Gigabyte Jajal Bisnis IoT dan Cloud Server di Indonesia
Di tahun 2017 lalu, NetApp berhasil meraih sejumlah penghargaan atas produk terbaik mereka. Peringkat kedua untuk Fastest Growing All Flash Arrays YoY Growth berhasil diraih NetApp berdasarkan laporan IDC Worldwide Quarterly Enterprise Storage Systems Tracker, Q3 2017, di tanggal 30 November 2017. Selanjutnya NetApp berhasil menyabet peringkat pertama dalam Wrold Wide Storage and Device Management Software Market Share untuk kategori Branded Revenue, di kuartal ketiga 2017 berdasarkan laporan Worldwide Storage Software and Cloud Services Qview dari IDC, di tanggal 7 Desember 2017.Baca juga:
Helios Cloud: Bak Kopi Sachet, Bangun Data Center Tak Perlu Investasi Besar
Berikutnya, NetApp NOTAP dinobatkan sebagai Open Networked Branded Storage OS nomor 1 di dunia, berdasarkan laporan Worldwide Quarterly Enterprise Storage Systems Tracker dari IDC, di tanggal 30 November 2017. Di Indonesia sendiri, tercatat NetApp mengalami pertumbuhan bisnis Flash-nya dua kali lipat pada semester pertama tahun fiskal di tahun 2018 ini.